Aku Ingin Menjadi Seperti Ayah

Aku Ingin Menjadi Seperti Ayah Cap Bintang Kupu Kupu Gloherbal

Banyak orang bilang bahwa kasih Ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Tapi tahukah gansis kalo kasih Ayah itu tanpa cela? Ketika Ibu mengandung kita, ayah merawatnya selama 9 bulan. Ayah memang tidak mengandung kita, tetapi Ayah merawat Ibu selama 9 bulan, bahkan memanjakannya. Ketika Ibu sudah mendekati hari kelahiran kita, Ayah semakin sibuk dan siaga. Terkadang Ayah selalu terbangun ditengah malam khawatir Ibu sudah mulai pecah ketubannya. Hingga akhirnya saat persalinan tiba, Ayah berdiri disamping Ibu memberikan dorongan semangat dan doanya. Sesaat setelah kita lahir, sontak Ayah menangis bahagia. Diberikannya kita nama yang baik, yang menjadi doa bagi kedua orangtua terhadap anaknya. Sewaktu kita masih bayi mungil dan sering menangis di tengah malam, Ayah ikut terbangun dan bergantian menimang kita hingga bisa berjam-jam sampai kita tertidur kembali. Terkadang Ayah mulai sibuk di kantor, mulai sering lembur kerja, dengan harapan bisa mendapatkan nafkah lebih untuk membelikan kita pernak perniknya.

Saat kita balita, Ayah juga ikut mengajarkan kata-kata. Ayah ikut mengajarkan nyanyian dan doa. Ayah mengajarkan kita membaca hingga menaiki sepeda. Ketika kita terjatuh dari sepeda, Ayah akan berlari membangunkan kita. Ayah selalu menjadi pahlawan kita, mengusap luka dan airmata kita. Siapapun yang membuat kita menangis, bearti membuat Ayah ikut bersedih. Diluar rumah, diperjalanan, Ayah selalu menggandeng tangan kita. Ayah tidak segan-segan menggendong kita ketika kita lelah berjalan. Ketika kita tertidur di depan televisi, Ayah menggendong dan memindahkan kita ke tempat tidur. Sehingga terkadang kita suka terbingung dan aneh sendiri ketika terbangun paginya sudah berada diatas tempat tidur.

Ayah memilihkan kita sekolah yang terbaik, memenuhi segala kebutuhan kita untuk sekolah dan belajar. Bahkan terkadang Ayah memasukkan kita ke dalam tempat-tempat kursus agar kita bisa menguasai bidang-bidang tertentu. Ketika kita meminta uang jajan kepada Ibu, bahkan Ayah terkadang memberikan kita lebih. Ketika kita sakit, Ayah akan langsung membawa kita ke rumah sakit untuk berobat. Ayah tidak akan tenang hingga kita sembuh dari penyakit itu. Hingga terkadang kita sempat mendengar Ayah berkata kepada Dokter bahwa apapun dan berapapun biayanya asal anak saya sembuh tidak jadi masalah. Ayah terkadang hanya terdiam dan memberi isyarat ketika kita berbuat salah, menasehati kita, dan bahkan setelah itu Ayah kembali memanjakan kita. Diajaknya kita menuju tempat rekreasi, dibuatnya kita bahagia seharian. Ayah gemar memfoto kita menggunakan ponselnya, bahkan kamera. Dengan harapan Ayah bisa melihatnya ketika sedang istirahat kerja atau sedang jauh dari kita. Ayah juga suka memamerkan foto atau video kita kepada teman-temannya dengan perasaan bangga.

Saat kita akan berkuliah, Ayah memberikan kita kebebasan memilih walau terkadang dia juga memberikan saran. Ayah tetap memperlakukan kita seperti anak kecil, walaupun kita sudah berkuliah. Bahkan dibulan pertama kita sudah mulai bekerja, Ayah masih suka memberikan kita ongkos. Kadang Ayah berkata, nak kamu punya ongkos tidak buat berangkat kerja? Ayah kita senang ketika kita memiliki prestasi, apalagi mendapatkan promosi kerja. Lagi-lagi Ayah masih suka memberikan nasehat kepada kita, agar kita jangan sombong dan lupa dengan berbuat kebaikan.

Disaat Ayah menjadi wali dihari pernikahan kita, disaat itu pula menetes air matanya. Pertanda bahwa kita akan pergi meninggalkannya dari rumah yang sudah menjadi tempat kita tumbuh besar. Ayah memberikan restunya kepada kita, dan dia selalu berharap akan kebahagian kehidupan rumah tangga kita. Ya, itulah Ayah kita. Sosok pahlawan nyata yang tidak pernah masuk dalam film-film bioskop.

Tapi tahukah gansis? Terkadang Ayah sanggup diam-diam menderita, terkadang Ayah sanggup diam-diam menahan lapar dan lelahnya, terkadang Ayah sanggup ikhlas dengan pilihan hidup kita. Kita tidak pernah tahu atau bahkan tidak mau tahu tentang apa yang Ayah rasakan sejak kita lahir sampai sekarang. Kita tidak pernah tahu bahwa Ayah terpaksa kerja keras dan mencari pinjaman sana sini hanya untuk kesehatan dan pendidikan kita. Kita tidak pernah tahu bahwa Ayah pernah menangis mengkhawatirkan derita yang kita alami. Kita tidak pernah tahu bahwa uang yang Ayah berikan ternyata dapat membuatnya tidak bisa makan siang di kantor. Kita tidak pernah tahu bahwa sepatu Ayah sudah rusak dan kita mendapatkan yang baru. Kita tidak pernah tahu bahwa Ayah cemas ketika kita pulang ke rumah lewat tengah malam. Dan kita tidak akan pernah tahu kehilangannya, rasa sedihnya yang dahsyat ketika salah satu anaknya harus ada yang dipanggil terlebih dahulu menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Ketika memandikan jasad anaknya sendiri, ketika mensholatkan jasad anaknya sendiri, ketika menguburkan jasad anaknya sendiri. Ketahuilah gansis, tidak ada satupun Ayah didunia ini yang ingin melihat anaknya lebih dulu dikuburkan. Jika Ayah bisa menukar nyawa, mungkin Ayah rela mengorbankan nyawanya untuk kita.

Itulah Ayah, pahlawan hidup kita. Sosok yang tak pernah bisa tergantikan. Semoga Ayah kita yang masih hidup dipanjangkan umurnya diberikan kesehatan. Semoga Ayah kita yang telah tiada diterima di Syurga-Nya. Aamiin. Berbaktilah kepada Ayah dan Ibu kita, walau hanya dengan hal kecil sekalipun. Kebahagian Ayah dan Ibu kita adalah kebahagiaan kita kelak di Syurga.

Total Page Visits: 201 - Today Page Visits: 1
Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *